Namanya Diabadikan di KAWAH BULAN
| Ilustrasi Gambar |
Salah satu jasa terbesar yang diberikan Abul Wafa bagi studi matematika adalah trigonometri.
Mungkin Anda sudah kenal sosok al-Khawarizmi. Dialah ahli matematika Islam yang keso hor pada abad ke-10 M hingga sekarang. Namun, sesungguhnya, ada sosok lain yang juga ahli matematika dan hidup sezaman dengan al-Khawarizmi, Namanya memang tidak masyhur, tetapi ia mem berikan andil bagus untuk perkembangan matematika. Dialah Abul Wafa al-Buzjani. Bahkan, menurut George Sarton dalam bukunya berjudul Introduction to the History Science, Abul Wafa adalah salah satu ahli matematika terhebat yang dimiliki peradaban Islam.
Hebatnya lagi, Abul Wafa tidak saja dianggap seorang matematikus, tapi juga seorang saintis yang multi talenta. Dia juga ahli dalam bidang teknik (insinyur) dan as tronomi yang terkenal pada zamannya.
Barat mengakui kehebatan Abul Wafa dalam bidang sains. Dan sebagai bentuk pengakuannya, ilmuwan Barat yang ter gabung dalam Organisasi Astronomi Inter national (IAU) mengabadikan nama Abul Wafa sebagai nama salah satu kawah bulan. la satu dari 24 tokoh muslim yang namanya diabadikan di kawah bulan, yang dilakukan nya secara bertahap pada abad ke-20 M. antara tahun 1935, 1961, 1970 dan 1976. Hebatnya lagi, kebanyakan ilmuwan muslim diabadikan di kawah bulan dengan nama panggilan Barat, Abul Wafa dengan nama aslinya. Kawah bulan Abul Wafa terletak di koordinat 1.00 Timur, 116.60 Timur. Diameter kawah bulan Abul Wafa diameternya mencapai 55 km. Kedalaman kawah bulan itu mencapai 2,8 km. Lokasi kawah bulan Abul Wafa terletak di dekat ekuator bulan. Letaknya berdekatan dengan sepasang kawah Ctesibius dan Heron di sebelah timur. Di sebelah barat daya kawah bulan Abul Wafa terdapat kawah Vesalius dan di arah timur laut terdapat kawah bulan yang lebih besar bernama King. Begitulah dunia astronomi modern. mengakui jasa dan kontribusinya sebagai seorang astronom abad X. Sedang dalam bidang matematika, Abul Wafa pun banyak memberi sumbangan yang sangat penting bagi pengemban gan ilmu berhitung itu. "Abul Wafa adalah matematikus terbesar di abad ke 10 M," ungkap kattani.
Abul Wafa dianggap sosok yang selalu melakukan inovasi penting dalam bidang matematika. Ia pernah menulis sebuah risalah yang mengkritik pemikiran Eucklid. Diophantos dan al Khawarizmi. Sayang, risalah itu telah hilang Meski begitu, beliau telah mewariskan Kitab Al-Kami (Buku Leng kap) yang membahas tentang ilmu hitung (aritmatika) praktis Kontribusi lainnya yang tak kalah penting dalam ilmu matematika adalah Kitab Al-Handasa yang mengkaji penerapan geometri. Ia juga berjasa besar dalam mengembangkan trigonometri.
Penerapan geometri, la juga berjasa besar. dalam mengembangkan trigonometri. Tercatat, Abul Wafa adalah matematikusa pertama yang mencetuskan rumus umum sinus Selain itu, ia juga mencetuskan me tode baru dalam mernbentuk tabel sinus. la juga membenarkan nilai sinus 30 derajat) ke tempat desimal ke delapan Yang lebih. mengagumkan lagi, ia pernah membuat studi khusus tentang tangen serta menghi tung sebuah tabel tangen. Bagi Anda yang gemar matematika, mungkin sudah kenal istilah secan dan co secan Abul Wafa-lah orang yang pertama kali memperkenalkan istilah matematika yang sangat penting itu. Dia juga dikenal sangat jenius dalam bidang geometri la mampu menyelesaikan masalah-masalah geometri dengan sangat tangkas.
Pengaruh Abul Wafa yang begitu kuat membuat Baron Carra de Vaux mengam bil konsep secan-nya pada abad ke-19 M Sayangnya, di dunia Islam justru namanya sangat jarang terdengar. Nyaris tak per nah, pelajaran sejarah peradaban Islam yang diajarkan di Tanah Air mengulas dan memperkenalkan sosok dan buah pikir Abul Wafa. Sungguh ironis! Nama aslinya adalah Abu al-Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Ibn Abbas al-Buzjani. Ia terlahir di Buzjan, Khurasan (Iran), pada tanggal 10 Juni 940/328 H. la belajar matematika dari pamannya, Abu Umar al- Maghazli dan Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba Sedangkan, ilmu geometri dikenalnya dari Abu Yahya al-Marudi dan Abu al-Ala' Ibn Karib Abul Wafa tumbuh besar pada masa Dinasti Buwaihi, Iran (945-1055 M), sebuah dinasti yang mampu menggulingkan Dinasti Abbasiyah yang selama bertahun tahun berkuasa di Baghdad pada masa kepemimpinan Ahmad Buyeh.
Dinasti Buwaih memindahkan ibu kota pemerintahannya ke Baghdad saat Adud Ad-Dawlah berkuasa dari tahun 949 M 983 M. Pemerintahan Adud Ad-Dawlah sangat mendukung dan memfasilitasi para imuwan dan seniman. Peluang ini pun d manbatran Abul Wata dengan hijrah dari kampung halamannya ke Baghdad. Dia pun kemudian mengabdikan dirinya pada istana Adud ad-Dawlah pada tahun 959 M. Matematikus lainnya yang juga bekerja di istana Adud ad-Dawlah antara lain; Al-Quhi dan Al-Sijzi. Mereka betah terus bekerja di istana hingga kepemimpinan Buwaihi berganti ke anaknya pada tahun 983 M, yaitu Sharaf ad-Dawlah. Dukungan pihak istana terhadap Abul Wafa dan teman-temannya diwujudkan dengan menyuruh mereka untuk membuat observatorium di taman istana kesultanan Baghdad. Setelah bekerja keras, akhirnya observatorium astronomi itu bisa diwujudkan oleh Abul Wafa dan teman-temannya dan secara resmi dibuka pada Juni 988. M. Abul Wafa lalu membuat kuadran dind- ing untuk melihat bintang-bintang dari observatorium itu. Sayangnya, ketika Sharaf ad-Dawlah wafat, observatorium ini pun di tutup. Sederet karya besar telah dihasilkan Abul Wafa selama mendedikasikan dirinya di istana Sultan Buwaih, seperti: Kitab fima Yahtaju Ilaihi al-Kuttab wa al-Ummal min 'Ilm al-Hisab: sebuah buku tentang aritmatika. Dua salinan kitab itu, sayangnya tak leng kap, kini berada di perpustakaan Leiden. Belanda serta Kairo Mesir. Ia juga menulis Kitab al-Kamil.
Abul Wafa juga menulis Kitab fima Yahtaj Ilaih as-Suna' fi 'Amal al-Handasa tentang geometri untuk memenuhi permintaan khusus dari Khalifah Baha' ad Dawla Salinannya berada di perpustakaan Masjid Aya Sofya, Istanbul. Namun, karyanya yang paling terkenal adalah Kitab al-Majesti. Salinannya yang juga sudah tak lengkap kini tersimpan di Perpustakaan nasional Paris, Prancis. Abul Wafa meninggal pada 15 Juli 998 di kota Baghdad, Irak. Namun, hasil karya dan pemikirannya hingga kini masih tetap hidup.
Matematika ala Abul Wafa
Salah satu jasa terbesar yang diberikan Abul Wafa bagi studi matematika adalah trigonometri. Trigonometri berasal dari kata trigonon (tiga sudut) dan metro (mengukur). Ini adalah sebuah cabang matematika yang berhadapan dengan sudut segitiga dan fungsi trigonometri seperti sinus, cosinus, dan tangen. Trigonometri memiliki hubungan den gan geometri, meskipun ada ketidaksetu juan tentang apa hubungannya; bagi be berapa orang, trigonometri adalah bagian dari geometri. Dalam trigonometri, Abul Wafa telah memperkenalkan fungsi tangen dan memperbaiki metode penghitungan ta bel trigonometri. Ia juga turut memecahkan sejumlah masalah yang berkaitan dengan spherical triangles. Secara khusus, Abul Wafa berhasil menyusun rumus yang menjadi identitas trigonometri. Inilah rumus yang dihasilkan nya itu:
sin(a + b) = sin(a)cos(b) + cos(a)sin(b) cos(2a)= 1-2sin2(a) sin(2a) = 2sin(a)cos(a)
Selain itu, Abul Wafa pun berhasil mem bentuk rumus geometri untuk parabola, yakni: x4 a and x4 + ax3 = b. Rumus-rumus
Penting itu hanyalah secuil hasil pemikiran Abul Wafa yang hingga kini masih bertahan. Kemampuannya menciptakan rumus-rumus baru matematika membuktikan bahwa Abul Wafa adalah matematikus muslim yang sangat jenius.
Wallahu'alam bisshawab.