Banyak Mantra Selain "Man Jadda Wajada"
Bukankah masing-masing kita, acapkali, punya motto sendiri-sendiri baik sumber dari literatur Mahfuzhat atau pun tidak yang membuat kita merasa terinspirasi untuk menjadi lebih baik?
Tidak bisa di pungkari, Selepas novel dan film Negeri 5 Menara larismanis, pepatah Arab "Man Jadda Wajada" begitu akrab di telinga. Tapi tahukah Anda, di luar pepatah tersebut, banyak sekali pepatah Arab serupa yang sejatinya bisa dijadikan motto dan mantra pembangun jiwa? Dalam literatur khazanah Ilmu Mahfuzhat.
Penulis sendiri mengenal ilmu ini sewaktu mukim di sebuah pesantren salafiyyah di bekasi. Dari segi bahasa [Arab], kata "mahfuzhat" berarti "yang dihafal". Karena itulah, metode belajarnya dengan cara dihafal secara berulang-ulang. Dulu, saya ingat masing-masing santri maju ke depan kelas untuk dites seberapa banyak kalimat-kalimat indah tersebut bisa dihafal.
Kala itu, semula menghafal Mahfuzhat bagian dari keharusan,tapi entah kenapa saya dan teman-teman lainnya menjadi suka ilmu yang satu ini, meski tidak serta merta memahami secara utuh kedalaman makna ditiap pepatahnya. Hal ini, agaknya, lantaran struktur kalimatnya yang berima di lidah. Dahsyat. Luarbiasa.
Selain pepatah Man Jadda Wajada yang dipopulerkan novelis A. Fuadi, ada beberapa yang masih menggenang di benak penulis terkait Mahfuzhat. Antara lain :
Man Saara ala ad-Darbi washala. Artinya: Barangsiapa yang berjalan pada jalurnya, ia akan sampai.
Kalmu al-Lisan Anka min Kalmi As-Sinan. Artinya: Ucapan lidah itu lebih tajam ketimbang ujung tombak.
Aafatul 'Ilmi An-Nisyaan. Artinya: Bencana ilmu adalah sifat lupa.
Innal Hayata 'Aqidatun wa Jihadun. Artinya: Sesungguhnya hidup adalah keyakinan dan perjuangan.
Innamal 'Ilmu bit-Ta'allumi. Artinya: Sesungguhnya ilmu itu dengan belajar.
Undzur Maa Qaala wa Laa Tandzur Man Qaala. Artinya: Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan.
Demikianlah. Diluar yang saya sebutkan, banyak sekali pepatah-pepatah Arab yang di himpun dalam ilmu Mahfuzhat. Lalu siapakah tokoh-tokoh yang bila ditelisik kok bisa yah merangkai ujaran-ujaran makna seperti itu? Di sinilah titik kelemahannya: ada beberapa ujaran yang terlacak asal muasalnya, ada juga yang tidak. Ada pepatah Arab yang bisa di telusuri latar belakang konteks sosio-historisnya hingga bisa demikian menggugah, ada juga yang tidak, dan kerap menjadi tanda tanya,Yang jelas, syahdan, Mahfuzhat dihimpunan dari ucapan-ucapan para sahabat Nabi, tabi'in [orang yang hidup setelah sahabat Nabi dan tidak berjumpa dengannya], atau tokoh dan ulama dari zaman dahulu yang keilmuanya tidak diragukan lagi. Karenanya, menurut hemat penulis, bila menerapkan mantra Mahfuzhat untuk konteks kekinian, tentunya, ada yang masih relevan dan ada juga yang tidak. Semua terpulang pada cakrawala, pengalaman dan cara berpikir kita dalam memandang hidup. Bukankah masing-masing kita, acapkali, punya motto sendiri baik bersumber dari literatur Mahfuzhat ataupun tidak yang membuat kita merasa terinspirasi untuk menjadi lebih baik?
Wallahu'alam bisshawab.