Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Kelahiran Sang Nabi, Kelahiran Sang Terpuji


 
Kisah Kelahiran Sang Nabi adalah kelahiran kegembiraan dan cahaya. Jagat bergembira karena yang hak akan dirisalahkan dan yang gelap akan berubah menjadi terang.

Kisah Pasukan Gajah yang menyerbu Ka'bah masih kental dalam ingatan warga Mekkah. Abdul Muthallib, pemuka Quraisy yang telah lanjut usia, juga mesti menyakimkan angkara itu di depan matanya. Tapi bukan kinah itu yang membuatya bersedih kali ini Kabar yang dibawa kafilah dari Madinah yang mengatakan anaknya, Abdullah, menderita sakit parah membuatnya tak bisa bernafas dengan lega. Segera dikirimlah anaknya yang lain, Harits, menjemput. Tapi setibanya di Madinah, Harits temedu. Sang adik sudah terbaring di balik gundukan tanah. Hanya kubur itu yang ditemuinya.

Berdukalah Bani Hasyim. Juga berduka seorang perempuan yang tengah men gandung, Aminah binti Wahhab. Di perutnya ada darah daging Abdullah, muara semua pengharapan hidupnya. Bayi itu akan lahir sebagai yatim dan tak akan pernah dapat menyentuh hidung ayahnya. Alangkah malangnya.

Hari-hari pilu dilalui wanita dari suku Zuhra itu sampai menjelang masa persalinan, di bulan Rabiul Awal Tahun Gajah (571 M). Aminah melahirkan-tercatat da larn sejarah pada hari Senin, Tapi ulama berbeda pendapat mengenai tanggalnya. Ada yang menyebut tanggal 12 dan ada yang menyebut tanggal 8 atau 9. Tapi, yang pasti. Aminah melahirkan seorang bayi tampan dengan selamat. Sebuah riwayat Baihaqi dan dibaca dalam pelbagai kitab Maulid Nabi saw menyebutkan saat Nabi lahir tembok tembok istana kaisar runtuh, api yang disembah orang-orang Majusi di Persia padam, dan beberapa gereja roboh. Namun menurut pakar pakar riwayat, juga banyak cendikiawan kontemporer, riwayat itu lemah.

Saat tangis bayi itu pecah, kegembiraan kontan menyelimuti semua keluarga. Sang ibunda yang telah melewatkan perjudian maut persalinan itu dengan haru langsung menitahkan seorang utusan memberi kabar gembira tersebut kepada Abdul Muthallib. Betapa gembira hati pemimpin Quraisy itu mendengarnya. Duka kehilangan Abdullah sirna seketika dengan kelahiran sang cucu. Bergegas ia menuju ke rumah. Digendongnya bayi mungil itu dengan kasih. la langsung membawanya ke tempat paling terhormat di Mekkah, yaitu Ka'bah. Di sana ia memberikan nama Muhammad pada. bayi yang indah itu. Muhammad, tak lazim sebagai nama pada waktu itu. Tapi Abdul Muthalib mantap menjawab pertanyaan beberapa orang yang menanyakan perihal nama itu kepadanya.

"Kuinginkan dia menjadi orang terpu bagi Tuhan di langit dan makhluk-Nya di bumi," ujar Abdul Muthallib. Kelak, puji-pu jian melekat abadi pada diri "sang terpu (Muhammad) itu. 


Hati yang Suci


Sebagai keluarga terhormat, kelahiran bayi itu dirayakan dengan meriah oleh keluarga Abdul Muthalib. Pada hari ketu juh kelahirannya itu Abdul Muttallib minta disembelihkan unta. Masyarakat Quraisy diundang makan. Segera pulalah diutus seseorang mencari ibu susuan. Saat itu Bani Sa'd dikenal sebagai suku yang memiliki wanita-wanita sehat yang memiliki air susu yang baik. Saat menunggu datangnya ibu susu dari Bani Sa'd, Aminah menyuruh budak perempuannya, Tsuaibah, menyusui Muhammad.   

Sebenarnya status Muhammad sebagai anak yatim tidak menguntungkan. Wanita wanita Bani Sa'd cenderung memilih menyusui bayi yang orang tuanya masih lengkap sebab mereka berharap menerima upah tinggi. Aminah lama menunggu ibu susu bagi anaknya, sampai kemudian Halimah mengambilnya. Rupanya disusuinya bayi yang awalnya enggan dibawanya itu ambawa berkah silam kehidupan wanita ini Kambing-kambingnya bertambah gemuk dan melimpah ya Muhammad pun tumbuh dengan pesat. 

Selama dua tahun Muhammad unggal di padang sahara tandus, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima, puterinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya. Setelah cukup dua ahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa anak itu kepada ibunya dan sesudah itu membawanya kembali ke peda laman. Hal ini dilakukan karena kehendak ibunya, dan ada juga yang mengatakan kar ena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa kembali supaya lebih matang, juga saat itu dikabarkan ada wabah penyakit di Mekkah yang tentu tak baik buat seorang anak yang masih kecil seperti Muhammad. 

Ketika memasuki usia tiga tahun, Muhammad suka bermain dengan teman-teman sebayanya. Suatu hari, teman bermain Muhammad berlari ke rumah Halimah dan mengadu. 

"Saudaraku dari Quraisy itu telah di ambil oleh dua orang. la dibaringkan dan perutnya dibelah dan badannya dibolak balik," lapor anak itu Segera Halimah menyusul Muhammad Didapatinya anak tampan itu berdiri dengan muka pucat. 

"Apa yang telah terjadi, Nak?" tanya Halimah. 

"Aku didatangi dua orang berpakaian putih. Aku dibaringkan dan perutku dibedah. Mereka seperti mencari sesuatu dalam dadaku yang aku tidak tahu apa itu," jawab Muhammad. 

Rupanya dua orang itu adalah malaikat yang menemui anak mulia itu dan mem bersihkan hatinya. Semenjak itu tak ada satu noda hitam pun melekat dalam hati Muhammad. 

Pada usia 6 tahun, Muhammad mesti menerima kenyataan dirinya yang yatim platu Sehabis diajak menjumpai keluarga sang ibu dan ziarah ke makam sang ayah di Madinah, di tengah jalan sang ibu wafat di Abwa. Muhammad kecil menangis saat itu Kasih ibu yang sekejap dikenyamnya mesti hilang. Dua tahun kemudian sang kakek yang selalu mengelus kepalanya dengan kasih, juga mesti meninggalkannya Muhammad menjadi sebatang kara. 

Namun kepiluan itu tak meruntuhkan hatinya Di usia muda ia mendapat gelar Al Amin, yang terpercaya, saat menjadi hakim pada perkara peletakan Hajar Aswad D balik bayang-bayang pertumpahan darah waktu itu, Muhammad yang belum lagi diangkat menjadi rasul, menghamparkan kain bersudut empat. Diletakkannya batu hitam itu di tengah dan ia menitahkan empat kepala suku yang bertikai itu memegang keempat ujung kain. Semua puas, semua lega. Itulah fragmen keadilan dan kebijaksanaan yang dikagumi manusia sampai sekarang. 

Muhammad terus tumbuh walau dalam keprihatinan. la diasuh pamannya Abu Thalib yang mengajaknya berniaga. Sejak usia 12 tahun Muhammad sudah mengenal perniagaan sebab ia kerap mengunjungi pasar Ukaz, la menjadi pribadi mandin dalam kondisinya yang yatim piatu. Apapun ia lakukan termasuk mengembala hewan Sampai kemudian ia berniaga di bawah pe rusahaan Khadijah yang kemudian menjadi istri dan pembelanya. 

Lalu, kehidupan Muhammad setelah kelahirannya itu bak lampu yang terus me nyala. la bertahanuts di Gua Hira hingga menerima wahyu pertama sekaligus menasbihkan dirinya sebagai Rasulullah, pembawa risalah Allah ke bumi Dua dekade lebih Islam ia hantarkan dengan hati dan tangan mulianya ke muka bumi Kelahiran itu selamanya akan dikenang sebagi kelahiran cahaya yang membuat bumi, langit dan semua makhluk bergembira Lepas dari pekatnya kegelapan dosa dan kebodohan Allahuma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Muhammad.