Bercanda Itu Sunnah Nabi
| Ilustrasi Gambar |
"Apakah bercanda itu perbuatan tercela?" Dia menjawab, "Bahkan itu sunnah. Tetapi, bagi orang yang melakukannya dengan baik dan sesuai tempatnya."
Dalam kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad saw memang serius, Maklum, tugas dakwah yang harus dijalaninya menuntut ketegasan, bijaksana dan tidak main-main Tapi, bukan berarti Nabi tidak memiliki rasa humor. Bahkan dalam saat-saat tertentu, Rasulullah pun bercanda dengan para sahabat.
Pernah, suatu hari, seorang lelaki menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, bawalah aku!" Rasulullah pun menjawab, "Ya, kami akan memberimu anak unta Laki-laki itu pun bertanya, "Apa yang bisa aku lakukan dengan anak unta?" Dan Rasulullah menjawab, "Bukankah unta dewasa juga dilahirkan oleh seekor unta yang pernah kecil?" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Itulah salah satu cara Nabi bercanda dihadapan para sahabat. Bahkan, Nabi juga tidak jarang bercanda dengan anak-anak kecil, termasuk dengan cucunya. Dikisah kan bahwa Rasulullah pernah menjulurkan lidahnya kepada Hasan bin Ali. Ketika anak yang masih kecil itu melihat lidah Rasulullah yang berwarna kemerah-merahan, anak itu pun segera berlari ke arah Rasulullah karena takjub.
Hadapan para sahabat. Bahkan, Nabi juga tidak jarang bercanda dengan anak-anak kecil, termasuk dengan cucunya. Dikisah kan bahwa Rasulullah pernah menjulurkan lidahnya kepada Hasan bin Ali. Ketika anak yang masih kecil itu melihat lidah Rasulullah yang berwarna kemerah-merahan, anak itu pun segera berlari ke arah Rasulullah karena takjub.
Kendati suka bercanda dengan para sahabatnya, candaan Rasulullah bukanlah senda gurau yang dapat menimbulkan den dam, melainkan mempererat hubungan dan menunjukkan rasa keakraban. Salah satu contoh adalah humor Rasulullah kepada Zahir bin Hiram Zahir itu orang desa dan dia kerap membawa oleh-oleh dari desi untuk Nabi. Demikian juga dengan Nab Saat dalam perjalanan, tak jarang beliau menyiapkan oleh-oleh buat Zahir.
Walaupun Zahir memiliki wajah buruk, Rasulullah tetap mencintai Zahir. Suatu hari, saat Zahir sedang berjualan, tiba-tiba ada orang yang mendekap tubuhnya dari belakang. Tentu, Zahir kaget dan berteriak, "Lepaskan aku!"
Saat menoleh dan dia melihat bahwa yang memeluk itu, tidak lain dan tak bukan, adalah Rasulullah, ia pun tak mau melepas kan punggungnya yang melekat dengan dada Rasulullah. Dan setelah itu, Nabi ber kata, "Siapa yang ingin membeli budak?"
Spontan, Zahir bertanya, "Wahai Rasulullah, Anda tahu saya hanyalah seorang yang murahan?"
Rasulullah pun bersabda, "Tapi di sisi Allah kamu bukanlah orang yang murahan," atau Rasulullah bersabda, "Tetapi di sisi Allah, kamu sangatlah mahal" (HR. Tirmidzi).
Dari kisah-kisah di atas, bisa disimpul kan bahwa bercanda itu bukanlah sesuatu yang dilarang. Bahkan, bercanda itu ter masuk sunnah sebab Nabi dalam waktu waktu tertentu pun juga bercanda. Tapi, harus dengan satu catatan bahwa canda itu dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.
Hal itu sebagaimana dikatakan Sufyan bin Uyainah yang pernah ditanya, "Apakah bercanda itu perbuatan tercela?" Dia men jawab, "Bahkan itu sunnah. Tetapi, bagi orang yang melakukannya dengan baik dan sesuai tempatnya."